Ketika Dunia Berhenti Percaya pada Artificial Intelligence, dan Para Ilmuwan Nyaris Menyerah
“Setiap kisah besar memiliki titik terendahnya. Kisah AI pun demikian. Sebelum mengubah dunia, AI lebih dulu mengalami masa ketika hampir tidak ada lagi orang yang percaya padanya.”
Jika Anda hidup pada akhir tahun 1950-an, mungkin Anda akan berpikir bahwa dunia hanya tinggal menunggu beberapa tahun lagi sebelum komputer menjadi sepintar manusia.
Para ilmuwan begitu optimistis. Media memberitakan berbagai pencapaian AI dengan penuh semangat. Pemerintah mulai mengucurkan dana penelitian dalam jumlah besar.Universitas-universitas berlomba membuka laboratorium Artificial Intelligence. Suasananya mirip seperti ledakan teknologi yang kita rasakan beberapa tahun terakhir.
Semua orang percaya bahwa masa depan sudah di depan mata. Dan sejarah sering kali memiliki cara yang unik untuk mengingatkan manusia. Optimisme yang terlalu tinggi bisa berubah menjadi kekecewaan yang sama besarnya.
Dan itulah yang terjadi pada AI.
Ketika Semua Orang Terlalu Optimistis
Setelah konferensi Dartmouth tahun 1956, penelitian AI berkembang sangat cepat. Para ilmuwan mulai menciptakan berbagai program yang mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil.
Ada program yang dapat membuktikan teorema matematika.
Ada yang mampu menyelesaikan permainan sederhana.
Ada pula yang dapat memecahkan persoalan logika.
Pada masa itu, pencapaian tersebut benar-benar luar biasa.
Bayangkan seorang anak yang baru belajar berjalan, lalu berhasil melangkah beberapa meter. Semua orang akan bertepuk tangan. Masalahnya, sebagian orang kemudian mulai percaya bahwa anak itu akan bisa berlari maraton minggu depan.
Kurang lebih seperti itulah yang terjadi pada AI. Keberhasilan-keberhasilan kecil dianggap sebagai tanda bahwa mesin cerdas yang setara manusia akan segera hadir.
Salah satu ilmuwan bahkan pernah memperkirakan bahwa dalam waktu sekitar dua puluh tahun, komputer akan mampu melakukan hampir semua pekerjaan intelektual manusia.
Hari ini, kita tahu bahwa perkiraan itu terlalu optimistis.
Kenyataan Tidak Seindah Harapan
Bayangkan Anda memiliki resep membuat pesawat modern. Semua langkahnya lengkap. Semua teorinya benar. Masalahnya hanya satu. Anda hidup pada abad ke-15. Tidak ada aluminium, mesin jet dan juga teknologi manufaktur. Tidak ada komputer untuk membantu merancangnya. Resep yang sempurna tetap tidak bisa diwujudkan.
Begitulah kondisi AI saat itu. Para ilmuwan memiliki ide-ide yang luar biasa. Namun dunia belum memiliki teknologi yang cukup untuk menjalankannya.
Komputer masih sangat lambat. Memori hanya mampu menyimpan data dalam jumlah yang sangat kecil. Biaya komputasi sangat mahal.
Bahkan menjalankan satu program sederhana pun membutuhkan waktu yang lama.
Yang lebih penting lagi, AI hampir tidak memiliki “makanan”.
Hari ini kita mengenal data sebagai bahan utama AI. tapi pada tahun 1960-an, data digital hampir tidak ada.
Internet tidak ada, media sosial tidak semasif saat ini. Belum ada jutaan foto digital. Belum ada miliaran halaman web.
AI seperti seorang murid yang ingin belajar, tetapi hampir tidak memiliki buku.
Mesin yang Terlalu Kaku
Masalah berikutnya adalah cara AI “berpikir”.
Pada tahun 1973, matematikawan Sir James Lighthill menyampaikan laporan kepada pemerintah Inggris mengenai perkembangan AI. Laporan tersebut menilai bahwa sebagian besar penelitian AI belum berhasil memenuhi harapan besar yang sebelumnya dijanjikan.
Hasilnya hampir sama dan pendanaan mulai dikurangi. Banyak proyek dibatalkan, laboratorium kehilangan dukungan pengembangan. Semangat yang dulu begitu tinggi mulai menghilang.
Musim Dingin AI
Periode inilah yang kemudian dikenal sebagai AI Winter.
Mengapa disebut “musim dingin”?
Karena suasananya benar-benar seperti musim dingin.
Dingin.
Sepi.
Penuh ketidakpastian.
Penelitian masih ada. Tapi jumlahnya jauh berkurang. Mahasiswa mulai memilih bidang lain. Investor kehilangan minat. Perusahaan berhenti berinvestasi. Banyak orang mulai menganggap AI hanyalah tren sesaat yang gagal memenuhi janjinya.
Bayangkan menjadi seorang peneliti AI pada masa itu. Anda telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari sesuatu yang kini dianggap mustahil. Bahkan menyebut diri sebagai peneliti AI bisa membuat proposal penelitian Anda langsung ditolak. Tidak sedikit ilmuwan yang akhirnya beralih ke bidang lain demi melanjutkan karirnya.
Dunia Hampir Melupakan AI
Bayangkan jika Anda membuka koran teknologi pada pertengahan tahun 1970-an. Kemungkinan besar Anda tidak akan menemukan berita tentang AI. Yang lebih menarik saat itu, justru perkembangan mikroprosesor, komputer pribadi dan elektronika.
AI perlahan menghilang dari perhatian publik. Ironisnya, justru pada masa inilah banyak ide penting mulai berkembang diam-diam. Tidak lagi dikejar ekspektasi media atau terbebani janji yang berlebihan. Bahkan beberapa peneliti memilih tetap bekerja dalam sunyi.
Mereka percaya bahwa masalahnya bukan pada gagasan AI. Tapi masalahnya adalah dunia yang belum siap.
Mengapa AI tidak benar-benar mati?
Inilah bagian yang paling menarik. Jika AI benar-benar gagal, mengapa hari ini kita justru hidup di era AI?
Jawabannya sederhana.
Karena sebagian ilmuwan memilih bertahan. Mereka tidak menyangkal bahwa kegagalan itu bukan karena impiannya salah. Yang salah adalah waktunya.
Bayangkan seorang petani yang menanam benih saat musim kemarau. Ketika benih itu tidak tumbuh, apakah berarti benihnya buruk? Belum tentu.
Bisa jadi karena tanahnya belum siap, atau hujannya belum datang.
Begitu juga dengan AI, idenya sudah ada. Tetapi komputer belum cukup cepat, data belum banyak, perangkat penunjang belum cukup kuat. Dan semua itu baru akan berubah beberapa dekade kemudian.
Pelajaran Terbesar dari AI Winter
Jika ada satu pelajaran yang bisa kita ambil dari masa ini, mungkin pelajarannya adalah, Teknologi tidak berkembang hanya karena idenya bagus.
Ia membutuhkan ekosistem yang tepat, komputer yang lebih cepat, data yang melimpah, storage yang murah, jaringan internet yang stabil dan membutuhkan jutaan orang yang tanpa sadar menghasilkan informasi setiap hari.
Dan itu semua belum tersedia pada tahun 1970-an. Tapi suatu hari nanti, semuanya akan hadir. Dan ketika saat itu tiba, AI akan bangkit jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Refleksi
Melihat kembali AI Winter dari masa kini terasa seperti membaca bab sedih dalam sebuah novel yang akhirnya memiliki akhir bahagia. Tapi jika kita hidup pada masa itu, mungkin kita juga akan berpikir bahwa AI memang telah gagal.
Inilah yang membuat sejarah AI begitu menarik. Ia mengajarkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan jarang berjalan lurus. Ada masa ketika semuanya terlihat menjanjikan, ada juga masa dimana terasa sia-sia semua yang dikerjakan.
Lalu tanpa banyak yang menyadari, benih-benih yang sempat dianggap mati mulai tumbuh kembali.
AI tidak bangkit karena keajaiban. Ia bangkit karena ada orang-orang yang terus percaya, bahkan ketika hampir seluruh dunia berhenti untuk percaya.
Tahukah Anda?
- Istilah "AI Winter" tidak merujuk pada satu peristiwa tunggal, melainkan beberapa periode ketika pendanaan, minat, dan ekspektasi terhadap AI menurun drastis. Sejarawan umumnya menyebut dua gelombang utama: pada pertengahan 1970-an dan akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
- Laporan ALPAC (1966) menyebabkan banyak proyek penerjemahan mesin kehilangan pendanaan karena hasilnya belum memenuhi harapan. Ironisnya, teknologi penerjemahan berbasis AI kini digunakan setiap hari oleh jutaan orang.
- Laporan Lighthill (1973) menjadi salah satu faktor yang mengurangi dukungan pemerintah Inggris terhadap penelitian AI, sekaligus menjadi simbol berakhirnya euforia awal AI.
Bersambung...
Ketika dunia mulai melupakan AI, ada sekelompok ilmuwan yang memilih mengambil jalan berbeda.
Mereka berhenti mengajarkan komputer melalui ribuan aturan. Dan sebaliknya, mereka mengajarkan komputer “caranya belalajar”.
Ide itu terdengar sederhana, tapi justru ide inilah yang selanjutnya akan membangunkan AI dari “tidur panjangnya” dan mengubah masa depan dunia.
→ Chapter 5: Tiga Orang yang Menolak Menyerah, dan Akhirnya Mengubah Dunia

Komentar
Posting Komentar
Komen dengan akun asli tidak akan menghilangkan harga diri. Komen yang sopan dan tanpa spam juga akan menunjukkan bagaimana karakter sobat :)