Ketika Satu Kalimat Sederhana Menjadi Titik Awal Lahirnya Artificial Intelligence
“Terkadang, perubahan terbesar dalam sejarah tidak dimulai dari sebuah penemuan, melainkan dari sebuah pertanyaan.”
Jika pada artikel sebelumnya kita telah melihat bahwa manusia telah memimpikan “mesin yang dapat berpikir” selama ribuan tahun, maka kini kita akan bertemu dengan seseorang yang berani mengubah mimpi itu menjadi sebuah kenyataan ilmiah.
Namanya Alan Turing.
Mungkin Anda belum pernah melihat wajahnya. Namun, hampir setiap kali Anda menggunakan komputer, membuka internet, atau bahkan berbicara dengan AI seperti ChatGPT, ada jejak pemikirannya di balik semua teknologi tersebut.
Ironisnya, saat ia masih hidup, Turing tidak pernah melihat AI secanggih yang kita gunakan hari ini.
Ia tidak pernah menyaksikan komputer mampu mengenali wajah. Ia tidak pernah melihat mobil yang dapat mengemudi sendiri. Ia tidak pernah membayangkan seseorang bisa berdiskusi dengan AI melalui sebuah ponsel.
Namun, lebih dari 70 tahun yang lalu, ia telah mengajukan satu pertanyaan yang menjadi fondasi semua perkembangan itu.
“Can Machines Think?”
“Bisakah mesin berpikir?”
Pertanyaan itu hanya terdiri dari 3 kata dalam bahasa Inggris. Namun pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.
Dunia yang Sedang Berubah
Mari kita kembali ke awal tahun 1940-an. Dunia sedang berada dalam salah satu masa paling kelam dalam sejarah. Perang Dunia II berkecamuk. Berbagai negara berlomba menciptakan teknologi baru, bukan untuk kenyamanan, melainkan demi untuk bisa bertahan hidup lebih lama.
Di tengah perang itu, muncul tantangan besar yang hampir mustahil dipecahkan. Jerman menggunakan sebuah mesin bernama Enigma untuk mengenkripsi seluruh komunikasi militernya.
Setiap pesan yang dikirim berubah menjadi rangkaian huruf acak. Tanpa mengetahui cara membaca kode tersebut, pihak lawan tidak akan pernah tahu rencana serangan berikutnya.
Bayangkan jika hari ini semua pesan di aplikasi perpesanan berubah menjadi karakter acak yang tidak mungkin dibawa tanpa kunci tertentu. Kurang lebih seperti itulah Enigma bekerja. Selama bertahun-tahun mesin itu dianggap mustahil dipecahkan.
Seorang Matematikawan Muda yang Berpikir Berbeda
Di tengah situasi perang, pemerintah Inggris merekrut seorang matematikawan muda yang memiliki cara berpikir tidak biasa. Namanya Alan Turing. Alih-alih mencoba memecahkan setiap pesan secara manual, Turing bertanya,
“Bagaimana jika kita membuat mesin yang membantu manusia mencari jawabannya?”
Ide ini terdengar sederhana. Namun pada itu komputer elektronik hampir belum ada. Sebagian besar perhitungan masih dilakukan secara manual. Turing kemudian membantu merancang sebuah mesin elektromekanis yang dikenal sebagai Bombe.
Mesin ini bukan “AI”.
Ia juga bukan komputer modern.
Namun Bombe mampu mempercepat proses menemukan kemungkinan konfigurasi Enigma dibandingkan jika dilakukan oleh manusia.
Berkat kombinasi kerja pada ahli kriptografi, matematik, insinyur dan mesin tersebut, banyak pesan rahasia Jerman akhirnya berhasil dibaca.
Banyak sejarawan meyakini bahwa keberhasilan memecahkan Enigma memperpendek Perang Dunia II dan menyelamatkan jutaan nyawa.
Meski demikian, Turing sendiri jarang membicarakan jasanya. Sebagian besar pekerjaannya bahkan dirahasiakan selama bertahun-tahun.
Ketika Komputer Masih Sebesar Ruangan
Setelah perang berakhir, dunia mulai berubah. Komputer elektronik mulai dikembangkan. Namun jangan membayangkan laptop tipis atau komputer dekstop seperti saat ini.Komputer pada masa itu memenuhi satu ruangan. Beratnya bahkan bisa mencapai puluhan ton. Menggunakan ribuan tabung vakum. Menghabiskan listrik dalam jumlah yang sangat besar. Tapi kemampuannya bahkan masih kalah jauh dibandingkan ponsel yang hari ini ada di saku Anda. Sebagian besar orang memandang komputer sebagai mesin hitung yang sangat mahal.
Tidak lebih.
Tapi Alan Turing melihat sesuatu yang berbeda. Ia tidak melihat komputer sebagai kalkulator. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang mungkin suatu hari nanti mampu membantu manusia berpikir.
Inilah yang membuat pemikirannya jauh melampaui zamannya.
Pertanyaan yang Mengubah Sejarah
Pada tahun 1950, Alan Turing menerbitkan sebuah makalah ilmiah berjudul:
Computing Machinery and Intelligence
Di sinilah ia mengajukan pertanyaan yang kemudian menjadi salah satu pertanyaan paling terkenal dalam sejarah ilmu komputer.
“Can Machines Think?”
Sekilas pertanyaan itu tampak sederhana. Tapi sebenarnya pertanyaan tersebut sangat sulit untuk dijawab.
Apa sebenarnya arti “berpikir”?
Apakah mengingat berarti berpikir?
Apakah menghitung berarti berpikir?
Apakah membuat keputusan berarti berpikir?
Perdebatan itu bisa berlangsung tanpa akhir. Dan Turing memilih jalan yang berbeda. Ia berkata, daripada terus memperdebatkan definisinya, mengapa kita tidak mengujinya saja?
Turing Test: Ujian yang Masih Dibicarakan Hingga Hari Ini
Untuk menjelaskan idenya, Turing menciptakan sebuah eksperimen yang sekarang dikenal sebagai Turing Test.
Bayangkan Anda duduk di depan sebuah komputer, dan di balik layar terdapat dua pihak. Yang pertama adalah seorang manusia. Dan yang kedua adalah sebuah mesin.
Anda tidak dapat melihat siapa pun. Anda hanya dapat mengirim dan menerima pesan teks.
Tugas Anda sangat sederhana. Tentukan mana yang manusia dan mana yang merupakan sebuah mesin.
Sekarang bayangkan Anda mengobrol selama beberapa menit. Keduanya menjawab pertanyaan Anda.
Keduanya bercanda.
Keduanya menjelaskan suatu topik.
Namun setelah percakapan selesai, Anda tidak mampu memastikan mana yang manusia.
Menurut Turing, jika mesin mampu membuat manusia ragu dalam situasi seperti itu, maka mesin tersebut telah menunjukkan perilaku yang cukup “cerdas” untuk dianggap mampu berpikir dalam konteks percakapan.
Perlu dipahami bahwa Turing Test bukanlah cara untuk membuktikan bahwa mesin benar-benar memiliki kesadaran. Tes ini hanya untuk mengukur apakah perilaku mesin dalam percakapannya cukup mirip dengan manusia, sehingga sulit dibedakan oleh lawan bicaranya.
Konsep inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan awal penelitian AI.
Mengapa Pertanyaan Itu Sangat Penting?
Banyak orang mengira AI lahir ketika komputer mulai bisa berbicara. Padahal, AI lahir ketika cara berpikir manusia yang berubah.
Sebelum Alan Turing, komputer dianggap sebagai alat hitung. Sesudah Alan Turing, muncul kemungkinan baru.
Bagaimana jika komputer dapat:
- Belajar,
- Memahami bahasa,
- Mengambil keputusan,
- Memecahkan masalah,
- Bahkan membantu manusia menemukan ide baru?
Perubahan cara berpikir inilah yang jauh lebih penting daripada teknologi yang tersedia saat itu.
Turing tidak mengatakan bahwa semua itu akan segera terwujud. Ia hanya menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut layak untuk diteliti. Dan ternyata puluhan tahun kemudian, ribuan ilmuwan di seluruh dunia benar-benar mengikuti jejak pemikirannya.
Warisan yang Tidak Pernah Berakhir
Alan Turing meninggal pada tahun 1954, dua tahun sebelum istilah Artificial Intelligence resmi diperkenalkan dalam Konferensi Dartmouth.
Ia tidak sempat melihat lahirnya bidang ilmu yang telah ia bantu pondasinya. Ia juga tidak pernah menyaksikan komputer mengalahkan juara catur dunia.
Tidak pernah melihat AlphaGo.
Tidak pernah mengenal internet, apalagi berbicara dengan ChatGPT.
Namun, hampir setiap tonggak perkembangan AI modern selalu dapat ditelusuri kembali kepada pertanyaan yang ia ajukan pada tahun 1950.
Itulah mengapa banyak orang menyebut Alan Turing sebagai salah satu bapak ilmu komputer modern dan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah AI.
Ia mungkin tidak menciptakan AI. tetapi ia membuat dunia mulai percaya bahwa AI mungkin untuk diwujudkan.
Tahukan Anda?
- Makalah "Computing Machinery and Intelligence" yang diterbitkan Alan Turing pada tahun 1950 masih menjadi salah satu karya ilmiah paling berpengaruh dalam sejarah ilmu komputer dan AI.
- Turing Test hingga kini masih sering dibahas, meskipun para peneliti AI modern menggunakan banyak ukuran lain untuk mengevaluasi kemampuan model AI. Tes ini tetap penting karena memperkenalkan cara berpikir baru tentang hubungan antara manusia dan mesin.
- Penghargaan paling bergengsi di bidang ilmu komputer, yaitu A.M. Turing Award, dinamai untuk menghormati Alan Turing. Penghargaan ini sering dijuluki sebagai "Hadiah Nobel"-nya ilmu komputer.
Refleksi
Menariknya, Alat Turing tidak memberikan jawaban pasti atas pertanyaannya sendiri. Ia justru meninggalkan pertanyaan tersebut kepada generasi berikutnya.
Dan tanpa disadari, selama lebih dari 70 tahun, pada ilmuwan di seluruh dunia terus mencoba menjawabnya.
Setiap kemajuan AI yang kita lihat hari ini, mulai dari penerjemah bahasa otomatis, mobil tanpa pengemudi, hingga chatbot yang mampu berdiskusi dengan manusia, pada dasarnya adalah bagian dari jawaban panjang atas satu pertanyaan sederhana:
Bisakah mesin berpikir?
Dan mungkin, pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab. Tapi satu hal yang pasti. Pertanyaan tersebut telah mengubah arah perkembangan teknologi dan peradaban manusia untuk selamanya.
Bersambung...
Pada tahun 1956, hanya enam tahun setelah Alan Turing mengajukan pertanyaan yang mengguncang dunia, sekelompok ilmuwan berkumpul di sebuah kampus kecil di Amerika Serikat.
Mereka datang dengan mimpi yang sama: menciptakan mesin yang mampu menunjukkan kecerdasan.
Tak seorang pun menyangka bahwa pertemuan musim panas itu akan melahirkan disiplin ilmu baru yang kelak dikenal di seluruh dunia sebagai Artificial Intelligence.
→ Chapter #3: Hari Ketika Artificial Intelligence Resmi Dilahirkan


Komentar
Posting Komentar
Komen dengan akun asli tidak akan menghilangkan harga diri. Komen yang sopan dan tanpa spam juga akan menunjukkan bagaimana karakter sobat :)