Langsung ke konten utama

Chapter 1: Sebelum Ada ChatGPT, Manusia Sudah Memimpikan AI Selama Ribuan Tahun

Perjalanan panjang sebuah mimpi yang dimulai jauh sebelum komputer ditemukan.

Semua teknologi besar selalu berawal dari sebuah mimpi. AI pun demikian. Bedanya, mimpi itu sudah hidup ribuan tahun sebelum komputer pertama diciptakan” 


Ketika mendengar kata Artificial Intelligence (AI), apa yang pertama kali terlintas di benak Anda?

Mungkin ChatGPT yang mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Mungkin Gemini yang membantu mencari informasi. Atau mungkin robot humanoid yang berjalan layaknya manusia seperti dalam film fiksi ilmiah.

Semua jawaban itu tidak sepenuhnya salah.

Namun semuanya memiliki satu kesamaan, kita selalu melihat AI dari sudut pandang masa kini.

Padahal jika kita ingin benar-benar memahami AI, kita harus melakukan perjalanan yang jauh lebih panjang. Bukan kembali ke tahun 2022 ketika ChatGPT diperkenalkan kepada publik. Bukan pula ke tahun 1956 ketika istilah Artificial Intelligence pertama kali digunakan.

Kita harus melangkah lebih jauh lagi. Jauh sebelum listrik ditemukan. Jauh sebelum mesin uap mengubah dunia. Bahkan jauh sebelum manusia mengenal kata “komputer”.

Karena sesungguhnya AI bukan sekedar lahir dari perkembangan teknologi. AI lahir dari rasa ingin tahu manusia, keinginan yang telah menemani peradaban selama ribuan tahun: “Bisakah kita menciptakan sesuatu yang dapat berpikir seperti kita?”

Menariknya, pertanyaan itu sudah muncul sejak manusia masih menjelaskan dunia melalui mitos.


Ketika Manusia Membayangkan “Makhluk Buatan”

Bayangkan Anda hidup lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Tanpa ada listrik. Tanpa ada mesin. Tanpa ada komputer. Namun manusia sudah mulai membayangkan adanya makhluk yang dibuat oleh tangan manusia, tetapi mampu bergerak dan menjalankan tugasnya sendiri.

Dalam mitologi Yunani kuno terdapat kisah tentang Talos, seorang penjaga raksasa yang seluruh tubuhnya terbuat dari perunggu. Konon Talos mengelilingi pulau Kreta setiap hari untuk melindungi penduduknya dari ancaman musuh. Ia tidak lelah, tidak tidur, dan hanya memiliki satu tujuan, menjaga pulau tempat ia ditugaskan.

Tentu saja Talos bukanlah AI dalam pengertian modern. Ia hanyalah tokoh dalam cerita. Akan tetapi, kisah itu menunjukkan bahwa sejak dahulu manusia telah membayangkan kemungkinan menciptakan “kehidupan” melalui benda buatan.

Menariknya, hampir setiap peradaban memiliki cerita serupa. Ada legenda tentang patung yang hidup, boneka mekanis, hingga makhluk buatan yang mampu menjalankan perintah penciptanya.

Semuanya lahir dari satu pertanyaan yang sama:

“Bagaimana jika manusia dapat menciptakan sesuatu yang memilki kemampuan seperti dirinya?”

Pertanyaan inilah yang menjadi benih awal dari perjalanan AI.


Dari Imajinasi Menjadi Mesin

Berabad-abad kemudian, mimpi itu mulai berubah menjadi kenyataan, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana.

Pada masa Renaissance dan Revolusi Industri, pada penemu mulai menciptakan automata, yaitu mesin mekanis yang dapat bergerak secara otomatis. Beberapa di antaranya mampu memainkan alat musik, ada yang dapat menulis, ada pula yang dapat menggambar.

Jika dilihat hari ini, gerakannya mungkin tampak sederhana. Namun bagi masyarakat pada zamannya, mesin-mesin tersebut terasa seperti keajaiban. Untuk pertama kalinya, manusia melihat sebuah benda mati yang dapat melakukan sesuatu tanpa disentuh secara langsung.

Meskipun seluruh gerakannya masih diatur oleh roda gigi, pegas, dan mekanisme mekanik, automata memberikan satu pelajaran penting:

Mesin dapat dibuat untuk meniru sebagian perilaku manusia.

Inilah salah satu batu loncatan menuju lahirnya AI.


Charles Babbage: Orang yang Membayangkan Komputer Sebelum Komputer Ada

Memasuki abad ke-19, muncul seorang matematikawan asal Inggris bernama Charles Babbage. Pada masa itu, perhitungan matematika dilakukan secara manual. Kesalahan dalam menghitung tabel navigasi atau astronomi dapat berakibat fatal.


Babbage berpikir sederhana, “Mengapa manusia tidak membuat mesin yang dapat menghitung secara otomatis”.

Dari gagasan itu lahirlah rancangan Difference Engine, kemudian disusul Analytical Engine. Mesin kedua inilah yang dianggap sebagai cikal bakal komputer modern. Yang menarik, Analytical Engine bukan sekedar mesin hitung.

Babbage membayangkan sebuah mesin yang dapat menerima instruksi, menyimpan data, melakukan berbagai operasi, lalu menghasilkan keluaran sesuai perintah.

Konsep yang terdengar sangat biasa di masa kini. Namun pada tahun 1830-an, gagasan tersebut benar-benar revolusioner. Sayangnya, keterbatasan teknologi pada masa itu membuat mesin impiannya tidak pernah selesai dibangun.

Meski demikian, ide-idenya menjadi fondasi bagi dunia komputasi modern.


Ada Lovelace: Orang Pertama yang Melihat Potensi Komputer

Di balik nama Charles Babbage, ada sosok yang sering terlupakan, namanya Ada Lovelace. Ia adalah seorang matematikawan yang bekerja bersama Babbage. Ketika banyak orang melihat Analytical Engine hanya sebagai mesin hitung yang lebih cepat, Ada melihat sesuatu yang jauh lebih besar.

Ia membayangkan bahwa suatu hari nanti mesin seperti itu tidak hanya menghitung angka. Mesin juga dapat memproses simbol, menciptakan musik, bahkan membantu menghasilkan karya seni.

Bagi banyak orang saat itu, pemikiran tersebut terasa terlalu imajinatif. Namun jika kita melihat dunia saat ini, bukankah itulah yang sedang dilakukan AI?

AI mampu membuat lagu, menghasilkan gambar, menulis cerita dan AI mampu membantu manusia berkarya.

Karena itulah, banyak sejarawan teknologi menyebut Ada Lovelace sebagai programmer pertama di dunia, sekaligus salah satu orang pertama yang memahami bahwa komputer suatu hari nanti akan menjadi lebih dari sekedar kalkulator.


Mimpi yang Menunggu Teknologi

Walaupun ide tentang komputer mulai berkembang, ada satu masalah besar.

Teknologinya belum siap.

Belum ada transistor. Belum ada mikroprosesor. Belum ada memori seperti yang kita kenal sekarang. Semua gagasan besar itu seperti seorang arsitek yang telah menggambar rancangan gedung pencakar langit, tetapi dunia belum menemukan baja dan beton untuk membangunnya.

Akibatnya, mimpi tentang mesin yang mampu “berpikir” harus menunggu hampir satu abad lagi. Namun sejarah sering kali bergerak dengan cara yang tidak terduga. Sebuah perang besar justru menjadi pemicu lahirnya komputer elektronik pertama.

Mesin-mesin yang awalnya dirancang untuk membantu memecahkan persoalan militer perlahan berkembang menjadi komputer yang jauh lebih canggih. Dan di tengah perubahan dunia itulah, seorang ilmuwan muda mulai mengajukan pertanyaan yang akan mengubah sejarah.

Namanya Alan Turing.

Ia tidak bertanya bagaimana membuat mesin yang lebih cepat. Ia tidak bertanya bagaimana membuat mesin yang lebih besar. Pertanyaannya jauh lebih dari sederhana, namun juga jauh lebih dalam.

Bisakah mesin berpikir?

Pertanyaan itu terdengar singkat. Tetapi jawabannya akan mengubah dunia selamanya.



Tahukah Anda?

  • Talos sering dianggap sebagai salah satu "robot" pertama dalam mitologi, meskipun tentu saja ia hanyalah tokoh legenda. Kisahnya menunjukkan bahwa gagasan tentang makhluk buatan sudah hidup dalam imajinasi manusia sejak ribuan tahun lalu.
  • Charles Babbage tidak pernah berhasil menyelesaikan Analytical Engine, tetapi rancangan mesin tersebut memiliki banyak konsep yang kemudian digunakan dalam komputer modern, seperti unit pemrosesan, memori, dan perangkat masukan-keluaran.
  • Ada Lovelace menulis algoritma untuk Analytical Engine pada tahun 1843. Karena itulah ia sering disebut sebagai programmer pertama di dunia, meskipun komputer yang akan menjalankan algoritmanya belum pernah selesai dibuat.



Refleksi

Jika kita melihat kembali perjalanan ini, ada satu hal yang menarik. AI ternyata tidak lahir karena manusia ingin membuat robot.

AI lahir karena manusia selalu ingin memperluas kemampuannya sendiri.

Dahulu, kita menciptakan roda agar dapat berjalan lebih jauh. Kita menciptakan teleskop agar dapat melihat lebih jauh. Kita menciptakan komputer agar dapat menghitung lebih cepat.

Dan kini, kita mengembangkan AI agar dapat memahami, mengalisis, dan membantu menyelesaikan persoalan yang semakin kompleks.

Mungkin itulah sifat paling dasar manusia. Kita selalu ingin melampaui batas yang kita miliki.



Bersambung…

Pada artikel berikutnya, kita akan bertemu dengan seorang ilmuwan yang sering dijuluki Bapak Ilmu Komputer Modern. Di tengah dunia yang baru saja melewati Perang Dunia II, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana yang kemudia menjadi titik awal lahirnya Artificial Intelligence.


→ Chapter 2: Alan Turing dan Pertanyaan yang Mengubah Dunia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AI Untuk Semua: Sebuah Perjalanan Memahami Kecerdasan Buatan

Hari gini gak tau AI? Saat ini semua orang sudah tau apa itu AI? Bahkan anak SD saja sudah menggunakan AI untuk berbagai keperluan, dari mulai menghasilkan gambar sederhana, curhat cinta monyet bahkan sampai tindakan yang nyaris kriminal. Tapi apa kalian tahu apa itu AI sebenarnya? Sejarahnya sampai perkembangannya hingga seperti saat ini? Kali ini, kita akan membahas segala sesuatu tentang AI yang akan dibagi kedalam beberapa chapter dengan judul besar “ AI Untuk Semua: Sebuah Perjalanan Memahami Kecerdasan Buatan ”. Prolog: " Selama Ini Kita Salah Memahami AI " Chapter 1: “ Sebelum Ada ChatGPT, Manusia Sudah Memimpikan AI Selama Ribuan Tahun ” Chapter 2: “ Alan Turing dan Pertanyaan yang Mengubah Dunia ” Chapter 3: “ Hari Ketika Artificial Intelligence Resmi Dilahirkan ” Chapter 4: “ AI Pernah Mati, dan Hampir Tidak Pernah Bangkit Lagi ” Chapter 5: “ 3 Orang yang Menolak Menyerah, dan Akhirnya Mengubah Dunia ” Chapter 6: “ Mengapa AI Tiba-Tiba Menjadi Pintar? ” ...

Chapter 3: Hari Ketika Artificial Intelligence Resmi Dilahirkan

Musim Panas Tahun 1956: Ketika Sekelompok Ilmuwan Berkumpul dan Tanpa Sadar Mengubah Masa Depan Dunia. "Tidak semua peristiwa besar terjadi di hadapan jutaan orang. Ada yang lahir dari sebuah ruangan kecil, beberapa lembar kertas, dan sekelompok orang yang berani bermimpi." Pada chapter sebelumnya kita mengenal seorang ilmuwan bernama Alan Turing yang mengajukan pertanyaan sederhana:  “Bisakah mesin berpikir?” Pertanyaan itu menjadi percikan pertama. Namun sebuah percikan tidak akan menjadi api jika tidak ada orang yang bersedia menjaganya tetap menyala. Enam tahun kemudian, tepatnya pada musim panas tahun 1956, sekelompok ilmuwan berkumpul di sebuah kampus kecil di Amerika Serikat. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada yang ahli matematika, ada yang mempelajari psikologi, ada yang meneliti komputer, bahkan ada yang mendalami teori informasi. Mereka tidak datang untuk memamerkan penemuan. Mereka datang karena memiliki mimpi yang sama. Mereka ingin mencari tahu a...