Musim Panas Tahun 1956: Ketika Sekelompok Ilmuwan Berkumpul dan Tanpa Sadar Mengubah Masa Depan Dunia.
"Tidak semua peristiwa besar terjadi di hadapan jutaan orang. Ada yang lahir dari sebuah ruangan kecil, beberapa lembar kertas, dan sekelompok orang yang berani bermimpi."
Pada chapter sebelumnya kita mengenal seorang ilmuwan bernama Alan Turing yang mengajukan pertanyaan sederhana:
“Bisakah mesin berpikir?”
Pertanyaan itu menjadi percikan pertama. Namun sebuah percikan tidak akan menjadi api jika tidak ada orang yang bersedia menjaganya tetap menyala.
Enam tahun kemudian, tepatnya pada musim panas tahun 1956, sekelompok ilmuwan berkumpul di sebuah kampus kecil di Amerika Serikat. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada yang ahli matematika, ada yang mempelajari psikologi, ada yang meneliti komputer, bahkan ada yang mendalami teori informasi.
Mereka tidak datang untuk memamerkan penemuan. Mereka datang karena memiliki mimpi yang sama. Mereka ingin mencari tahu apakah kecerdasan manusia benar-benar dapat diciptakan di dalam sebuah mesin.
Tak seorang pun di antara mereka menyadari bahwa pertemuan sederhana itu kelak akan dikenang sebagai hari kelahiran Artificial Intelligence.
Sebuah Kampus Kecil Bernama Dartmouth
Mari kita bayangkan suasana di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1950-an. Televisi mulai masuk ke rumah-rumah. Komputer elektronik masih sangat mahal dan hanya dimiliki oleh universitas besar, lembaga penelitian, atau militer.
Belum ada internet. belum ada telepon genggam, belum ada komputer pribadi dan istilah software engineer bahkan belum dikenal seperti sekarang.
Di tengah dunia yang sedang belajar memanfaatkan komputer, terdapat sebuah universitas kecil bernama Dartmouth College, yang terletak di Hannover, New Hampshire.
Dari luar kampus ini tampak seperti kampus pada umumnya. Tidak ada gedung futuristik, tidak ada laboratorium yang dipenuhi robot.
Tapi pada musim panas tahun 1956, kampus inilah yang menjadi tempat lahirnya salah satu bidang ilmu paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
Sebuah Proposal yang Terdengar Mustahil
Semuanya berawal dari sebuah proposal penelitian. Proposal itu ditulis oleh seorang ilmuwan muda bernama John McCarthy, bersama Marvin Minsky, Nathaniel Rochester, dan Claude Shannon.
Proposal tersebut memiliki tujuan yang terdengar sangat berani. Mereka menulis bahwa penelitian ini didasarkan pada dugaan bahwa:
"Setiap aspek pembelajaran atau karakteristik kecerdasan pada prinsipnya dapat dijelaskan dengan sangat tepat, sehingga sebuah mesin dapat dibuat untuk mensimulasikannya."
Kalimat itu mungkin terdengar biasa hari ini. Pada tahun 1956, pernyataan tersebut hampir seperti mengatakan, “Suatu hari nanti kita akan membuat mesin yang dapat berpikir”.
Banyak orang menganggap bahwa ide itu terlalu ambisius. Sebagian lain bahkan menganggapnya mustahil.
Tapi para ilmuwan hebat itu memilih untuk tidak memperdebatkan kemungkinan tersebut. Mereka justru ingin membuktikannya melalui penelitian.
Untuk Pertama Kalinya, Sebuah Nama Diberikan
Di dalam proposal itulah, John McCarthy memperkenalkan sebuah istilah baru, Artificial Intelligence.
Dalam bahasa Indonesia, kita mengenalnya sebagai Kecerdasan Buatan.
Mengapa bukan “Machine Intelligence”?
Atau mengapa bukan “Artificial Brain”?
John McCarthy sengaja memilih istilah Artificial Intelligence karena menurutnya istilah tersebut cukup luas untuk mencakup berbagai pendekatan dalam menciptakan mesin yang dapat menunjukkan perilaku cerdas.
Tanpa disadari, nama yang ia pilih lebih dari enam puluh tahun lalu masih kita gunakan hingga hari ini.
Setiap kali kita mengucapkan kata “AI”, kita sebenarnya sedang menggunakan istilah yang lahir dari proposal sederhana tersebut.
Orang-Orang di Balik Lahirnya AI
Jika Alan Turing memberikan pertanyaan yang menginspirasi dunia, maka Konferensi Dartmouth mempertemukan orang-orang yang akan mencari jawabannya.
Di antara mereka terdapat beberapa nama yang kemudian menjadi legenda.
John McCarthy - Sang Pemberi Nama
John McCarthy sering disebut sebagai Bapak Artificial Intelligence.
Selain memperkenalkan istilah AI, ia juga mengembangkan berbagai konsep penting dalam ilmu komputer, termasuk bahasa pemrograman LISP, yang selama puluhan tahun menjadi bahasa utama dalam penelitian AI.
Ia percaya bahwa suatu hari mesin akan mampu bernalar seperti manusia. Optimisme itulah yang mendorong lahirnya bidang ilmu baru.
Marvin Minsky - Orang yang Percaya pada Masa Depan Mesin
Marvin Minsky adalah ilmuwan yang sangat yakin bahwa kecerdasan manusia pada akhirnya dapat dipahami secara ilmiah. Baginya, otak bukanlah sesuatu yang ajaib. Otak adalah sistem yang sangat kompleks.
Dan jika sistem itu dapat dipahami, maka suatu hari dapat pula ditiru oleh mesin. Pemikiran ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan AI selama beberapa dekade berikutnya.
Claude Shannon - Bapak Teori Informasi
Jika Anda pernah mengirim pesan melalui internet, menonton video daring, atau menggunakan jaringan seluler, maka Anda telah menikmati warisan pemikiran Claude Shannon.
Ia dikenal sebagai Bapak Teori Informasi, sebuah cabang ilmu yang menjadi dasar komunikasi digital modern.
Kontribusinya dalam konferensi tersebut membantu menjembatani hubungan antara matematika, informasi dan kecerdasan.
Nathaniel Rochester - Sang Insinyur
Sebagai salah satu insinyur komputer di IBM, Nathaniel Rochester memahami bahwa impian besar tidak akan pernah terwujud tanpa perangkat keras yang mampu menjalankannya.
Ia membawa perspektif praktis ke dalam diskusi.
Bagaimana mewujudkan ide-ide besar itu menjadi mesin yang benar-benar dapat bekerja?
Optimisme yang Terlalu Besar
Suasana konferensi dipenuhi semangat. Para peserta percaya bahwa mereka sedang membuka jalan menuju sesuatu yang luar biasa.
Bahkan, beberapa ilmuwan memperkirakan bahwa hanya dalam waktu satu atau dua dekade, komputer akan mampu melakukan hampir semua pekerjaan intelektual manusia.
Jika melihat perkembangan AI saat ini, perkiraan itu terdengar masuk akal. Tapi mereka lupa satu hal penting. Teknologi saat itu masih sangat terbatas.
Komputer memiliki memori yang sangat kecil. Kecepatan pemrosesan yang sangat rendah. Data digital hampir tidak ada.
Tidak ada internet.
Tidak ada GPU.
Tidak ada cloud computing.
Dan mereka memiliki mimpi yang sangat besar.
Tetapi alat untuk mewujudkan mimpi itu belum tersedia.
Mengapa Dartmouth Sangat Penting?
Sebagian orang mengira Konferensi Dartmouth berhasil karena langsung menghasilkan AI yang canggih. Padahal kenyataannya tidak lah demikian. Tidak ada robot yang lahir dari konferensi itu. Tidak juga chatbot. Tidak ada juga mobil tanpa pengemudi.Bahkan sebagian besar hasil penelitiannya masih berupa gagasan. Lalu mengapa konferensi ini dianggap sangat penting?
Karena untuk pertama kalinya, para ilmuwan sepakat bahwa kecerdasan buatan layak untuk dipelajari sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Sebelumnya, penelitian tentang mesin cerdas tersebar di berbagai bidang seperti matematika, psikologi, filsafat, teknik elektro dan ilmu komputer.
Setelah Dartmouth, semuanya memiliki satu rumah baru. Rumah itu bernama Artificial Intelligence. Inilah yang membuat konferensi tersebut menjadi tonggak sejarah. Ini bukan akhir dari sebuah perjalanan. Justru ini adalah awal dari perjalanan yang sesungguhnya.
Sebuah Mimpi yang Menular
Setelah konferensi selesai, para peserta kembali ke universitas dan laboratorium masing-masing. Namun mereka membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada catatan penelitian.
Mereka membawa sebuah keyakinan. Bahwa suatu hari nanti, mesin benar-benar dapat membantu manusia menyelesaikan persoalan yang membutuhkan kecerdasan. Keyakinan itu menyebar ke berbagai universitas. Laboratorium AI mulai bermunculan.
Pemerintah mulai memberikan pendanaan. Perusahaan teknologi mulai menunjukkan minat. Dunia sedang memasuki babak baru. Sayangnya, seperti banyak revolusi ilmiah lainnya, perjalanan Ai tidak selalu berjalan mulus.
Optimisme yang begitu tinggi perlahan bertemu dengan kenyataan. Para ilmuwan mulai menyadari bahwa membuat mesin yang benar-benar “cerdas” ternyata jauh lebih sulit daripada yang mereka bayangkan.
Benih AI Mulai Tumbuh
Meskipun komputer saat itu masih sangat terbatas, tetapi berbagai penelitian mulai bermunculan. Program-program awal berhasil membuktikan bahwa komputer dapat menyelesaikan persoalan matematika sederhana, memainkan permainan strategi, hingga membuktikan teorema logika.
Setiap keberhasilan kecil membuat optimisme semakin besar. Media mulai memberitakan bahwa era mesin cerdas sudah di depan mata. Pendanaan penelitian terus mengalir. Harapan masyarakat semakin tinggi.
Tapi di balik semua optimisme itu, tersembunyi sebuah masalah besar yang belum disadari banyak orang. Mereka telah menetapkan ekspektasi yang terlalu tinggi untuk teknologi yang masih sangat muda.
Dan seperti yang sering terjadi dalam sejarah ilmu pengetahuan, ketika harapan tumbuh lebih cepat daripada kemampuan teknologi, kekecewaan pun sulit dihindari.
Refleksi
Jika kita melihat kembali Konferensi Dartmouth hari ini, mungkin kita akan tersenyum. Bukan karena semua prediksi mereka benar. Justru karena sebagian besar prediksi mereka ternyata terlalu optimis.
Tetapi, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan besar sering kali dimulai oleh orang-orang yang berani membayangkan sesuatu yang belum mungkin diwujudkan.
Mereka mungkin salah dalam memperkirakan kapan AI akan menjadi kenyataan. Tapi mereka tidak salah tentang arah yang akan ditempuh umat manusia.
Tanpa keberanian mereka memberi nama, menyatukan gagasan, dan membangun komunitas ilmiah, mungkin AI tidak akan berkembang secepat sekarang.
Kadang-kadang, penemuan terbesar bukanlah sebuah mesin.
Melainkan sebuah keyakinan bahwa sesuatu yang tampak mustahil layak untuk diperjuangkan.
Tahukah Anda?
- Istilah "Artificial Intelligence" pertama kali digunakan secara resmi oleh John McCarthy dalam proposal Dartmouth Summer Research Project on Artificial Intelligence tahun 1955, yang menjadi dasar penyelenggaraan konferensi pada musim panas 1956.
- Konferensi Dartmouth hanya berlangsung sekitar delapan minggu, tetapi dampaknya terasa hingga lebih dari setengah abad kemudian. Banyak sejarawan menyebutnya sebagai "tempat kelahiran AI".
- Bahasa pemrograman LISP, yang dikembangkan John McCarthy pada tahun 1958, menjadi salah satu bahasa paling berpengaruh dalam penelitian AI selama beberapa dekade karena sangat cocok untuk memproses simbol dan penalaran logis.
Bersambung...
Pada akhir tahun 1950-an, para ilmuwan begitu yakin bahwa mesin cerdas akan segera hadir.
Dana penelitian mengalir deras. Media memuji AI sebagai masa depan. Tapi hanya beberapa tahun kemudian, harapan itu berubah menjadi kekecewaan.
Proyek-proyek mulai gagal.
Pendanaan dihentikan.
Laboratorium ditutup.
AI memasuki masa yang kini dikenal sebagai AI Winter - musim dingin yang hampir mengakhiri impian tentang kecerdasan buatan.
→ Chapter #4: AI Pernah Mati, dan Hampir Tidak Pernah Bangkit Lagi


Komentar
Posting Komentar
Komen dengan akun asli tidak akan menghilangkan harga diri. Komen yang sopan dan tanpa spam juga akan menunjukkan bagaimana karakter sobat :)